416 Korban Lakalantas di Sulut dalam 4 Bulan, Balap Liar Disebut Jadi Pemicu Utama
Dalam forum Ngopi Bareng JIPS di Kantor Gubernur Sulut, PT Jasa Raharja mengungkap santunan kecelakaan lalu lintas mencapai Rp5,7 miliar. Mapanget dan Malalayang menjadi wilayah dengan kasus tertinggi di Manado.
MANADO, NorthSulawesiNews.com — Tingginya angka kecelakaan lalu lintas di Sulawesi Utara kembali menjadi sorotan. Dalam kurun waktu Januari hingga April 2026, PT Jasa Raharja Kantor Wilayah Sulawesi Utara mencatat sebanyak 416 korban kecelakaan lalu lintas telah menerima santunan dengan total nilai mencapai Rp5,7 miliar.
Data tersebut diungkap Kepala Kanwil PT Jasa Raharja Sulawesi Utara, Ni Made Ayu Mulidyawati, saat agenda Ngopi Bareng Jurnalis Independen Pemprov Sulut (JIPS) di Kantor Gubernur Sulut, Rabu (13/5/2026).
Menurut Ayu, angka tersebut khusus untuk wilayah Sulawesi Utara dan belum termasuk daerah layanan lainnya seperti Gorontalo dan Maluku Utara.
“Korban yang menerima santunan terdiri dari korban meninggal dunia maupun luka-luka akibat kecelakaan lalu lintas,” ujar Ayu.

Ia menjelaskan, secara keseluruhan di wilayah layanan Sulut, Gorontalo, dan Maluku Utara, santunan untuk korban meninggal dunia telah mencapai lebih dari Rp7 miliar, sementara santunan korban luka-luka menyentuh Rp4,09 miliar.
Dari ratusan kasus yang tercatat, Kota Manado menjadi daerah dengan angka kecelakaan tertinggi. Dua kecamatan yakni Mapanget dan Malalayang disebut mendominasi kasus lakalantas sepanjang awal tahun 2026.
Yang memprihatinkan, mayoritas korban berasal dari kelompok usia produktif, termasuk pelajar dan mahasiswa.
“Kalau berdasarkan catatan kepolisian, banyak kasus dipicu kegiatan balap liar,” ungkap Ayu.
Fenomena balap liar yang marak diduga menjadi salah satu faktor meningkatnya kecelakaan di sejumlah ruas jalan Kota Manado. Aktivitas ilegal tersebut dinilai tidak hanya membahayakan pelaku, tetapi juga pengguna jalan lainnya.
Selain menyalurkan santunan, Jasa Raharja bersama kepolisian, Dinas Perhubungan, dan Samsat terus melakukan sosialisasi keselamatan berlalu lintas guna menekan angka kecelakaan.
Ayu menegaskan, tingginya korban dari kalangan kepala keluarga dan usia produktif turut berdampak pada meningkatnya potensi masalah sosial dan ekonomi.
“Situasi ini berpotensi menambah angka kemiskinan karena banyak korban merupakan tulang punggung keluarga,” katanya.
Saat ini, Forum Lalu Lintas Sulawesi Utara disebut terus melakukan evaluasi dan analisis untuk menentukan langkah pencegahan demi meminimalisir kecelakaan dan korban jiwa di jalan raya. (Paul)



