Ngopi Bareng JIPS Bongkar Fakta Liga 4 Sulut: Disiapkan Kilat, Stadion Klabat Tetap Bergemuruh
Diskusi publik ungkap persiapan hanya sepekan hingga tantangan anggaran di balik sukses turnamen.
MANADO, NorthSulawesiNews.com – Sorak sorai ribuan penonton yang menggema di Stadion Klabat saat Liga 4 PSSI Piala Gubernur Sulawesi Utara berlangsung, ternyata menyimpan cerita yang tak banyak diketahui publik. Di balik kemeriahan itu, turnamen ini justru lahir dari proses persiapan yang serba singkat—bahkan nyaris tak masuk akal.
Fakta ini terungkap dalam diskusi santai bertajuk “Peluang dan Tantangan Sepak Bola Sulut” yang digelar Jurnalis Independen Pemprov Sulut (JIPS), Kamis (24/4/2026), di Kantin PKK Kantor Gubernur Sulut. Forum tersebut menghadirkan panitia Liga 4 PSSI bersama Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Sulut, Audy Pangemanan.
Dalam pemaparannya, panitia yang dikoordinatori Fighter Aprilian (putra bungsu Gubernur Yulius Selvanus), mengungkap bahwa waktu persiapan yang idealnya memakan waktu hingga tiga bulan, harus dipadatkan hanya dalam hitungan hari.

“Panitia dibentuk tanggal 21 (Maret), pembukaan tanggal 27 dan pertandingan pertama tanggal 28. Pekerjaan tiga bulan harus selesai dalam satu minggu,” ungkap sekretaris panitia, Fiko Onga.
Situasi ini menuntut pengambilan keputusan cepat di tingkat pimpinan daerah. Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara di bawah Gubernur Yulius Selvanus dan Wakil Gubernur Victor Mailangkay memilih untuk tidak menunggu kondisi ideal, melainkan langsung bergerak demi memastikan turnamen tetap terlaksana.
Kendala terbesar pun tak terelakkan, terutama soal anggaran. Meski demikian, dukungan pemerintah tetap mengalir, meski tidak selalu ditampilkan ke publik.
“Masalah utama tentu anggaran. Tapi dengan dukungan Pak Gubernur, panitia tetap bekerja maksimal,” ujar Fiko.
Menariknya, bantuan tersebut justru diberikan tanpa keinginan untuk disorot. Bahkan, menurut Fiko, Ketua Panitia Figter Aprilian sempat menegaskan agar kontribusi pribadi dari orangtuanya tersebut tidak perlu dibesar-besarkan.
“Beliau bilang, tidak usah diingat-ingat siapa yang membantu. Fokus saja bekerja maksimal untuk kemajuan sepak bola Sulut,” tambahnya.
Di tengah berbagai tantangan, panitia tetap menjaga profesionalitas. Fighter secara konsisten mengingatkan bahwa panitia hanya bertugas sebagai pelaksana teknis, bukan penentu aspek lain seperti penunjukan wasit.
“Panitia bekerja sesuai peran. Kami tidak mengatur wasit, itu bukan ranah kami,” tegasnya.
Penegasan ini menjadi penting, terutama di tengah derasnya kritik di media sosial yang kerap tidak tepat sasaran. Bagi panitia, kunci utama adalah memahami batas tugas masing-masing agar pekerjaan berat tetap dapat dijalankan dengan efektif.
Hasilnya pun terlihat nyata. Sekitar 8.000 penonton memadati stadion, sementara hampir 10.000 lainnya menyaksikan melalui siaran langsung atau live streaming di media sosial —sebuah angka yang menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap sepak bola Sulawesi Utara masih sangat tinggi.
Lebih dari sekadar pertandingan, Liga 4 Piala Gubernur Sulut menjadi bukti bahwa kerja cepat, jika dikelola dengan tepat, tetap mampu menghasilkan event berkualitas dan membangkitkan semangat olahraga di daerah. (Paul)



