Ekonomi dan Bisnis

OJK Ungkap Capaian SNLIK 2026, Inklusi Keuangan Sulut Hampir Sentuh Target 2030

Hasil SNLIK 2026 mencatat indeks literasi keuangan Sulawesi Utara mencapai 69,98 persen dan inklusi keuangan 94,37 persen, keduanya berada di atas angka nasional.

MANADO, NorthSulawesiNews.com – Akses masyarakat Sulawesi Utara terhadap layanan keuangan terus menunjukkan perkembangan positif. Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 mencatat indeks literasi keuangan Sulawesi Utara mencapai 69,98 persen, sementara indeks inklusi keuangan berada di level 94,37 persen.

Capaian tersebut menjadi salah satu indikator semakin luasnya pemanfaatan produk dan layanan jasa keuangan oleh masyarakat di daerah.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Utara dan Gorontalo (SulutGo), Robert HP Sianipar, mengatakan hasil survei tersebut menjadi gambaran positif sekaligus bahan evaluasi untuk memperkuat program literasi dan inklusi keuangan ke depan.

Hal itu disampaikannya dalam kegiatan Media Update Triwulan III Tahun 2026 dengan tema Diseminasi Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2026 Provinsi Sulawesi Utara, yang digelar di Aula BPS Sulawesi Utara, Rabu (19/8/2026).

Narasumber dari kiri ke kanan; Ilham Taufik dari Bank Indonesia Sulut, Reza Dotulung Karo Perekonomian Setdaprov Sulut, Dr Watekhi Kepala BPS Sulut, Robert Sianipar Kepala OJK SulutGo, dan Dirum Bank SulutGo Joubert Dondokambey. (Foto: Paul Bawole)

Menurut Robert, secara nasional indeks literasi keuangan pada SNLIK 2026 tercatat 69,57 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai 93,61 persen.

Dengan demikian, posisi Sulawesi Utara berada di atas capaian nasional untuk kedua indikator tersebut.

“Angkanya mengalami peningkatan, baik literasi maupun inklusinya. Di Sulawesi Utara, indeks literasinya 69,98 persen dan inklusinya 94,37 persen,” ujar Robert.

Capaian tersebut juga dinilai semakin mendekatkan Sulawesi Utara pada target pemerintah daerah di sektor inklusi keuangan.

Robert menyebut target inklusi keuangan Sulawesi Utara pada 2030 berada di kisaran 95,11 persen. Artinya, capaian 94,37 persen saat ini hanya menyisakan selisih sekitar 0,74 poin persentase menuju target tersebut.

“Kalau kita bandingkan dengan target pemerintah daerah tahun 2030 sebesar 95,11 persen, kita sedikit lagi akan bisa mencapai hasil tersebut,” katanya.

OJK menilai peningkatan literasi dan inklusi keuangan tidak dapat dicapai hanya melalui satu lembaga. Penguatan ekosistem keuangan membutuhkan kolaborasi pemerintah, industri jasa keuangan, akademisi hingga media.

Robert menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang selama ini terlibat dalam berbagai program edukasi dan perluasan akses keuangan di Sulawesi Utara.

“OJK tidak bisa melakukan ini sendiri. Kami berkolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah daerah, akademisi, pelaku usaha jasa keuangan maupun media,” ujarnya.

Meski menunjukkan tren positif, OJK tetap mencermati sejumlah catatan dari hasil survei, terutama pada segmen masyarakat tertentu yang masih membutuhkan penguatan pemahaman dan akses terhadap produk keuangan.

Temuan tersebut selanjutnya akan menjadi salah satu dasar dalam merancang program literasi dan inklusi keuangan yang lebih tepat sasaran.

“Beberapa catatan di beberapa segmen menjadi panduan kita dalam merumuskan program ke depan,” kata Robert.

Sebelumnya, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Utara, Dr Watekhi, memaparkan hasil SNLIK 2026 untuk Sulawesi Utara.

SNLIK 2026 merupakan kerja sama OJK, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan BPS. Survei tersebut tidak hanya mengukur tingkat literasi dan inklusi keuangan, tetapi juga menjadi bahan evaluasi terhadap efektivitas program serta perencanaan kegiatan literasi dan inklusi keuangan pada tahun berikutnya.

Selain itu, survei mengukur pengetahuan, pemahaman dan kepercayaan masyarakat terhadap penjaminan simpanan.

Secara nasional, SNLIK 2026 mencakup 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota, termasuk seluruh 15 kabupaten/kota di Sulawesi Utara.

Untuk Sulawesi Utara, tingkat response rate survei tercatat 98,41 persen.

Metodologi survei dilakukan melalui pemilihan Satuan Lingkungan Setempat (SLS) berdasarkan alokasi sampel pada masing-masing kabupaten/kota dengan mempertimbangkan klasifikasi perkotaan dan perdesaan.

Selanjutnya dipilih 10 rumah tangga sampel pada setiap SLS berdasarkan hasil pemutakhiran. Dari rumah tangga tersebut kemudian dipilih satu responden yang memenuhi kriteria berusia 15 hingga 79 tahun.

SNLIK 2026 menghasilkan sejumlah indikator, di antaranya indeks literasi keuangan, indeks inklusi keuangan, pengetahuan terhadap penjaminan simpanan serta pengetahuan mengenai penjaminan polis asuransi.

Indeks literasi keuangan menggambarkan pengetahuan, keterampilan dan keyakinan yang memengaruhi sikap serta perilaku masyarakat dalam mengambil keputusan dan mengelola keuangan.

Sementara indeks inklusi keuangan menggambarkan ketersediaan akses masyarakat terhadap berbagai lembaga, produk dan layanan jasa keuangan sesuai kebutuhan dan kemampuan untuk mendukung peningkatan kesejahteraan.

Cakupan SNLIK 2026 juga cukup luas karena melibatkan berbagai sektor industri jasa keuangan, mulai dari perbankan, pasar modal, perasuransian, lembaga pembiayaan, dana pensiun, pergadaian, lembaga keuangan mikro, fintech lending, penyelenggara jasa sistem pembayaran, BPJS hingga lembaga jasa keuangan lainnya.

Dalam kegiatan tersebut turut hadir sebagai pembicara Ilham Taufik dari Bank Indonesia Sulut, Direksi Bank Pembangunan Daerah SulutGo Joubert Dondokambey dan Karo Perekonomian Setdaprov Sulut Reza Dotulung.

Kegiatan juga diikuti perwakilan industri jasa keuangan serta awak media yang selama ini berperan dalam menyebarluaskan informasi mengenai edukasi dan akses layanan keuangan kepada masyarakat.(Paul)

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News Northsulawesinews.com

BERITA TERKAIT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button