NasionalSulawesi UtaraTerkini

Cegah Kelahiran Stunting, Calon Pengantin Wajib Screening Usia dan Kesehatan Reproduksi

MANADO – Komandan Pangkalan TNI Angkatan Udara (Danlanud) Sam Ratulangi Marsma TNI Muhammad Mujib SE MM, bersama Pokja Advokasi KIE Hubungan Antar Lembaga dan Data Informasi BKKBN Provinsi Sulawesi Utara Rosilia Wowiling yang mewakili Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sulut Ir Diano Tino Tandayu MErg mengikuti pencanangan pencegahan stunting nasional TA 2023 jajaran TNI AU bersama BKKBN, yang secara hybrid disiarkan dari Kupang, Senin (20/03/2023).

Selaku tamu kehormatan Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Fadjar Prasetyo SE MPP CSFA, Kepala BKKBN Pusat Dr (HC) dr Hasto Wardoyo SpOC (K), serta Gubernur NTT Viktor Laiskodat SH MSi, selaku tuan rumah.

Dalam sambutannya, Kepala BKKBN Pusat menyampaikan terimakasih kepada TNI AU beserta jajaran di seluruh Indonesia telah mendukung kegiatan ini. “Arahan Bapak Presiden RI Ir Djoko Widodo bahwa pembangunan SDM itu berawal dari keluarga, sehingga bisa melahirkan generasi yang sehat dan berkualitas,” jelas Hasto.

Dia mengatakan bahwa salah satu solusi untuk mencegah stunting yakni dengan melakukan screening atau menyaring terlebih dahulu terhadap pasangan yang hendak menikah.

Hasto menjelaskan jika berdasarkan skenario bayi lahir mencapai 130 ribu dan yang stunting 20 persen maka anak stunting 26.000 dan ini yang harus dicegah agar tidak lahir bayi stunting.

Dia juga memberi penguatan kepada gubernur, bupati dan wali kota di NTT dan seluruh jajaran BKKBN se-Indonesia supaya berhitung bersama-sama siapa yang hamil dan siapa yang mau hamil, agar bisa melakukan treatment secara kolaboratif antara pemerintah, BKKBN dan TNI.

Hasto menguraikan, di NTT dalam setahun pasangan yang hendak menikah itu antara 50.000 – 60.000 orang. Dan dari pernikahan tersebut yang hamil dipastikan bisa mencapai 40 ribu orang ibu.

Karena lanjut dia, yang hamil pada tingkat pertama sebanyak 40.000 orang maka anak stunting itu bisa 8.000 orang anak. Oleh sebab itu tambah dia, setiap pasangan yang hendak menikah harus discreening, sehingga sebelum menikah bisa dilakukan pemeriksaan umur serta kesehatan.

Dia juga mengatakan bahwa pasangan menikah khususnya pria harus memiliki sperma bagus dan sel telur perempuan juga harus bagus sehingga tidak melahirkan bayi stunting lagi.

Hal ini lanjut dia bertujuan untuk memastikan pasangan tersebut bisa menikah atau tidak. “Jika memang menikah maka program hamilnya ditunda, sehingga tidak menghabiskan banyak anggaran dalam pencegahan stunting,” ujar dia.

Lebih lanjut kata dia, yang perlu diperhatikan oleh calon pasangan suami istri adalah konsep pre konsepsi atau perencanaan sudah siap memiliki anak atau tidak.

“Dari pada harus menghabiskan uang untuk prawedding, lebih baik fokus pada pre konsepsi,” ujar Hasto.

Masih dalam sambutannya, Hasto mengapresiasi TNI AU dalam mendukung program BKKBN. “Rumah-Rumah Sakit di TNI Angkatan Udara sudah memiliki Poliklinik yang membantu BKKBN. Terima kasih kepada TNI Angkatan Udara,” pungkasnya.

Menyambut hal ini, Kasau mengatakan dalam sambutannya, bahwa melalui kesempatan ini, TNI AU ingin menyumbangkan apa yang dapat kami kerjakan. “Kami siap untuk terus mempromosikan, berupaya memperkenalkan daun kelor sebagai sumber gizi, seperti yang dipromosikan Gubernur NTT,” ujar Kasau.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut Komandan Kipan C Yonko 466 Kopasgat Kupang yang membawa bendera Merah Putih saat penerjunan menerima piagam penghargaan dari BKKBN. Kegiatan juga dilanjutkan dengan penyerahan bantuan sosial stunting bagi 6 keluarga perwakilan. Ada sejumlah 60 paket Bantuan Sosial yang disediakan.

Tampak hadir Kadispenau Marsma TNI Indan Gilang Buldansyah. Sebelumnya Kasau bersama staf jajarannya memeriksa Radar Buraen di Satrad 226 Buraen. (JB)

 

 

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News Northsulawesinews.com

BERITA TERKAIT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button